Tujuh Mata Air di Lereng Argopuro, Sebuah Pengingat untuk Menjaga Kehidupan

Ada alasan mengapa tanggal 7 Juli selalu memiliki makna tersendiri bagi saya. Di tengah riuhnya berbagai peristiwa yang sering dikaitkan dengan angka tujuh, saya justru menemukan makna angka tersebut bukan di stadion sepak bola atau panggung dunia, melainkan di lereng Gunung Hyang Argopuro, tempat air mengalir dan kehidupan bermula.

Bagi saya, angka tujuh bukan sekadar deretan angka yang mudah diingat. Ia menjadi simbol perjalanan yang mengubah cara pandang saya terhadap alam sekaligus menjadi titik awal lahirnya Rumah Tunjung Indonesia, sebuah gerakan yang berangkat dari kegelisahan akan semakin renggangnya hubungan manusia dengan alam, terutama dengan air.

Saya lahir dan besar di kaki Gunung Hyang Argopuro. Bukan sebagai ahli geologi ataupun peneliti hidrologi, melainkan sebagai seseorang yang tumbuh menyaksikan bagaimana pegunungan itu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.

Gunung Hyang Argopuro merupakan salah satu kawasan hutan pegunungan terluas di Pulau Jawa dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini berfungsi sebagai natural water tower atau menara air alami yang menyuplai kebutuhan air bagi ribuan masyarakat di wilayah hilir.

Berbagai penelitian, baik dari FAO, UNESCO, maupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menunjukkan bahwa kawasan pegunungan memiliki peran vital sebagai daerah tangkapan air yang menopang kehidupan masyarakat.

Di lereng selatan gunung tersebut terdapat Kecamatan Panti, wilayah yang secara geografis berada di tengah tujuh kecamatan yang berbatasan langsung dengan kawasan Argopuro, yakni Arjasa, Sukorambi, Patrang, Panti, Bangsalsari, Sumberbaru, dan Tanggul. Kawasan ini sejak lama menjadi ruang hidup yang bergantung pada keberadaan hutan dan mata air.

Namun hubungan manusia dengan alam sering kali baru disadari ketika bencana datang.

Baca juga  BLTS dan Modus Licik Penyelewengan, Ketika Data Dimanipulasi Demi Kepentingan Pribadi

Peristiwa banjir bandang yang melanda Kecamatan Panti pada awal 2006 menjadi salah satu tragedi yang membekas dalam ingatan masyarakat. Material kayu, batu, lumpur, dan air yang meluncur dari lereng gunung menghancurkan permukiman, merenggut korban jiwa, bahkan menyisakan duka bagi keluarga yang hingga kini tidak pernah menemukan sebagian anggota keluarganya.

Pengalaman kolektif tersebut memunculkan satu pertanyaan sederhana dalam benak saya: apakah kita akan terus mengingat bencana, atau mulai belajar menjaga sumber kehidupan yang selama ini menopang kehidupan kita?

Pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan gerakan Tilik Sumber. Bersama beberapa sahabat, kami memutuskan menyusuri mata air dari desa ke desa di Kecamatan Panti.

Kami tidak datang membawa teori yang rumit. Kami memilih mendengarkan. Kami berbincang dengan para petani, duduk bersama para sesepuh desa, dan menggali cerita tentang mata air yang selama puluhan bahkan ratusan tahun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Perjalanan tersebut perlahan menghadirkan sebuah temuan yang tidak pernah kami rencanakan sebelumnya.

Di setiap desa yang kami datangi, selalu terdapat satu mata air utama yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Ketika seluruh catatan perjalanan dikumpulkan dan dihitung kembali, hasilnya mengejutkan: terdapat tujuh desa dengan tujuh mata air utama.

Temuan itu tentu dapat dijelaskan secara geografis. Namun bagi saya, angka tujuh menghadirkan makna yang lebih dalam. Angka tersebut terus muncul dalam berbagai tradisi, nilai budaya, hingga ajaran spiritual yang telah lama dikenal manusia.

Dalam Islam, angka tujuh memiliki makna simbolik yang kuat, mulai dari penyebutan tujuh lapis langit, tujuh bumi, tujuh putaran tawaf, tujuh kali sa’i, hingga tujuh hari dalam satu pekan. Semua itu mengajarkan tentang keteraturan dan keseimbangan ciptaan.

Baca juga  KSR PMI Universitas Muhammadiyah Jember Kumpulkan 24 Kantong Darah, Dukung Ketersediaan Stok PMI Jember

Karena itulah saya tidak memandang tujuh mata air tersebut sebagai sesuatu yang mistis ataupun sekadar kebetulan. Saya melihatnya sebagai pengingat bahwa alam bekerja dalam keseimbangan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Dari perenungan itulah lahir gagasan Festival Sumber Tunjung: Tujuh yang Dijunjung.

Festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial ataupun hiburan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif bahwa menjaga mata air tidak cukup dilakukan melalui penanaman pohon atau pembangunan fisik semata. Yang tidak kalah penting adalah menjaga ingatan, merawat tradisi, dan menumbuhkan kembali rasa hormat manusia kepada alam.

Air bukan sekadar sumber daya yang dapat diambil sesuka hati. Air adalah fondasi kehidupan yang telah diwariskan alam kepada manusia selama ribuan tahun.

Melalui Festival Sumber Tunjung, kami ingin mengajak masyarakat melihat kembali hubungan tersebut. Bahwa setiap mata air menyimpan cerita, sejarah, dan nilai yang patut dihargai.

Pada akhirnya, yang kami junjung di lereng Argopuro bukanlah angka tujuh. Yang kami junjung adalah kehidupan itu sendiri.

Sebab ketika manusia berhenti menghormati air, sesungguhnya pada saat yang sama manusia juga sedang kehilangan penghormatan terhadap kehidupan.

di tulis :  Irham Fidaruzziar

Trending
Berita terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini